 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Untuk para penggemar drama korea jangan lewatin drama satu ini. Wajib ditonton banget. Ceritanya menyentuh hati, tentang seorang anak yang terinveksi Aids dari darah donor. Karakter yang ada di Thank You sangat beragam, ada single mother yang ceria walau beban hidup yang berat seperti anak tunggalnya yang kena Aids, membiayai adeknya kuliah, merawat kakeknya yang pikun, dokter ganteng yang sombong, orang kaya yang rese, anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Dan jangan ditanya akting para pemainnya. Buat aku akting anak kecil dan si kakek yang mencuri perhatian. Pokoknya wajib ditonton.
Dibawah ada sinopsis yang diambil dari WebGaul.
Thank You (Gomapseumnida)
Sutradara: Lee Dae-jong Penulis: Lee Kyeong-hee Produksi: MBC Durasi: 16 Episode @ 1 Jam Tgl. Rilis: 2007 Pemain: Gong Hyo-Jin , Jang Hyeok
Akibat kesalahan fatal saat melakukan transfusi darah yang dilakukan dokter wanita bernama Cha Ji-min, seorang gadis cilik bernama Lee Bom terinfeksi virus HIV. Tragisnya lagi, belakangan wanita malang itu juga ketahuan menderita kanker usus yang sudah tidak bisa disembuhkan.
Dengan penuh rasa bersalah, Ji-min sempat berpesan pada kekasihnya Min Gi-seo untuk mau mendatangi Lee Bom dan ibunya Lee Young-shin untuk meminta maaf bila ternyata dirinya tidak sempat bertemu ibu-anak tersebut.
Dasar nasib, Ji-min meninggal dalam perjalanan menuju pulau dimana Young-shin dan Bom tinggal (setelah sempat memberikan boneka yang dibelinya pada Bom). Keruan saja, kejadian itu membuat Gi-seo berubah total dan kehilangan tujuan hidup.
Bahkan, Gi-seo yang merasa bersalah karena tidak mampu menyembuhkan kekasihnya berhenti dari pekerjaan sebagai dokter bedah (akibat aksi memukul seseorang). Melihat keadaannya, ibunya yang merupakan pemilik sebuah perusahaan besar meminta sang putra menemani bawahannya yang paling dipercaya Choi Seok-hyeon meninjau proyek di sebuah pulau terpencil.
Lewat sebuah kejadian, Gi-seo akhirnya bertemu kembali dengan Young-shin dan Bom. Tapi yang paling diincarnya adalah boneka beruang yang diberikan mendiang kekasihnya pada Bom, namun niat tersebut belakangan diurungkan saat tahu gadis kecil itu adalah pasien yang dimaksud Ji-min.
Selain harus merawat Bom seorang diri karena tidak pernah menikah (belakangan ketahuan kalau Bom adalah putri hasil hubungannya dengan Seok-hyeon), Young-shin juga masih harus mengurus kakeknya Lee Byeong-gook alias Tuan Lee yang telah pikun dan bertingkah seperti anak kecil.
Tinggal untuk pertama kalinya di luar kota besar, Gi-seo membuat Young-shin sebal karena sikapnya yang kasar dan kerap mengeluh. Bahkan, penduduk desa yang semula menganggapnya pahlawan juga berbalik antipati akibat tingkah pemuda itu. Namun pelan-pelan, kehidupan di desa ditambah tinggal bersama Young-shin, Bom, dan Tuan Lee mampu mengubah karakter Gi-seo.
Bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya kehidupan Young-shin dan Bom apalagi setelah berita penyakit sang putri cilik tersebar di kalangan penduduk desa secara tidak disengaja. Yang paling mengenaskan dialami oleh Bom, yang diusianya yang masih belia harus merasakan kebencian dan ketakutan dari orang-orang disekelilingnya akan penyakit AIDS.
Yang membuat Gi-seo kesal adalah meski ditindas (terutama oleh Kang Gook-ja ibu Seok-hyeon yang meski diam-diam menyayangi Young-shin dan Bom namun malu mengakuinya), Yong-shin hanya pasrah dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih setiap kali dikritik. Bahkan, ibu satu anak itu menyebut dirinya sebagai batu yang tidak punya perasaan.
Keadaan semakin rumit setelah dalam sebuah kesempatan, Gi-seo mengakui apa yang menjadi alasannya pertama kali datang ke pulau. Tapi benarkah sikap Gi-seo berubah karena perasaan bersalahnya terhadap Young-shin dan Bom, ataukah ada sesuatu yang lain?
Banyak anggapan miring yang beredar soal melodrama Korea yang belakangan kerap terjebak dengan stereotip yang klise, namun rasanya semua itu tidak bakal ditemui di Thank You. Pasalnya, semua karakter dalam serial yang naskahnya ditulis oleh Lee Kyeong-hee (Sorry, I Love You) ini tidak ada yang sempurna dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebut saja seperti karakter Min Gi-seo yang diperankan Jang Hyeok yang meski nampak dingin namun mampu menjelma jadi sosok idaman wanita manapun juga dan Gong Hyo-jin yang sukses memerankan tokoh Young-shin yang begitu tegar.
Belum lagi akting menawan dua pemain berbeda generasi : Seo Shin-ae sebagai Lee Bom si anak kecil yang menderita AIDS namun hidupnya mampu memberi kebahagiaan bagi orang-orang disekitarnya dan Shin Goo si pemeran Mr Lee yang meski pikun, namun mampu memberi kenang-kenangan tak terlupakan bagi orang disekitarnya pada akhir serial.
Masih belum cukup? Masih ada Choi Seok-hyeon yang mengalami dilema antara keluarga dan cinta yang diperankan secara pas oleh Shin Seong-rok serta kekasihnya yang berhati baik Sooh Eun-hee (Kim Seung-eun).
Sama seperti serial sukses lainnya, tidak lengkap rasanya membahas Thank You tanpa menyebut lagu-lagu indah yang menghiasi sepanjang cerita khususnya dua lagu utama Saranghaeyo dan Gomabseubnida yang dinyanyikan oleh Hoon. Jangan heran bila yang satu ini bakal menjadi serial Korea terbaik di tahun 2007. Karena itu, jangan sampai gak nonton deh............(mdL)

Mau coba membuktikan buruknya minuman bersoda dan permen pada anak-anak..?!!
Caranya, sediakan:
Beli sebotol minuman bersoda (coca cola, pepsi) yang botol plastik 1,5 liter atau 2 liter (jangan botol kaca, kalau pecah bahaya). 2. Satu kemasan permen mentos.
eksperimen ini harus dilakukan di LUAR RUMAH. step-stepnya:
1. Letakkan botol di tempat yang datar. Buka botol minuman bersoda (jangan botol yang sudah lama dibuka, sodanya sudah menguap. Harus botol minuman yang baru dibuka).
2. Masukkan beberapa butir permen mentos sekaligus, ke dalam botol minuman bersoda itu. Satu pak langsung juga nggak apa.
3. Langsung menyingkir... (botol JANGAN DITUTUP. Tekanan yang terjadi bisa membuat botol meledak).
4. Dua atau tiga detik kemudian, mentos+soda akan membuat reaksi: gas karbon dari dalam minuman akan dilepaskan dengan cepat sekali, sehingga minuman bersoda itu akan muncrat membentuk air mancur yang tinggi..!
coba deh. Menarik sekali... imagine if that happen in our stomach...
(unknown)
THE GEOGRAPHY OF A WOMAN Between 18 and 20, a woman is like Africa. Half discovered, half- wild, naturally beautiful with fertile deltas. Between 21 and 30, a woman is like America. Well developed and open to trade, especially for someone with cash. Between 31 and 35, she is like India. Very hot, relaxed and convinced of her own beauty. Between 36 and 40, a woman is like France. Gently aging but still a warm and desirable place to visit. Between 41 and 50, she is like Iraq. Lost the war, haunted by past mistakes. Massive reconstruction is now necessary. Between 51 and 60, she is like Siberia. Very wide and borders are un-patrolled. The frigid climate keeps people away. Between 61 and 70, a woman is like Mongolia. A glorious and all conquering past but alas, no future. After 70, they become like Afghanistan. Everyone knows where it is, but no one wants to go there
(unknown)
(Buat yang beraktivitas di Jakarta......) Sumber : Tablid OTOMOTIF Letak daerah yang rawan ranjau paku di Jakarta, sebagai berikut: Jl. S. Parman dari RS Harapan Kita arah lampu merah Slipi, termasuk fly-over Slipi. Dari lampu merah Slipi ke arah Tomang. Fly Over Permata Hijau ke arah Pondok Indah, pertigaan lampu merah dari William Mobil ke arah lampu merah Kostrad. Jl. Gatot Subroto hingga ke perempatan lampu merah Kuningan dan arah sebaliknya. Jl. MT Haryono terutama perempatan patung Pancoran dan fly over Pancoran. Dari menara Saidah ke arah perempatan Kuningan. Jl. TB Simatupang terutama deket fly over Lenteng Agung dan ke arah Ps. Minggu. Jl. Majapahit dari Tanah Abang menuju Harmoni. Jl. Prof. Satrio dari Mal Ambassador ke arah Jl. Casablanca. FYI... paku ini ditaro oleh 'penjahat' tambal ban hampir setiap hari dan tiap pagi Polisi membersihkan hampir mendapatkan sebanyak 15 Kg paku..
So be careful, kalo bisa ambil jalur agak tengah jangan terlalu kiri atau kanan.
 Subject: Dua Bocah Pembunuh Balita
PRESTON - Dua bocah yang masing-masing berusia 11 tahun yang menculik, menyiksa dan membunuh seorang bocah lain berumur dua tahun dan masih belajar berjalan. James Bulger, Kamis kemarin dijatuhi hukuman seumur hidup dipenjara khusus anak-anak. Prakiraan semula hukuman yang akan dijatuhi hanya 20 tahun.
Kasus terjadi akhir Februari lalu itu mengejutkan publik dunia dan dianggap sebagai kejahatan anak-anak paling kejam dalam kurun waktu dua setengah abad ini. Hakim Morland memutuskan dua bocah itu, Robert Thompson dan Jon Venables, yang memasuki sejarah kejahatan Kamis kemarin, sebagai pelaku = pembunuhan termuda di Inggris dalam waktu dua setengah abad terakhir. Dan kejahatan mereka sebagai "tindakan kejam yang tiada bandingnya dan sadis".
Toh kedua bocah itu tetap saja nekad menyatakan dirinya tak bersalah atas tuduhan hakim. Menteri Dalam Negeri Michael Howard, yang menyatakan "ngeri" atas kasus itu, memutuskan untuk memenjarakan dua bocah itu dalam unit khusus dan sebuah rencana hukuman akan dirancang, yang akan mentransfer mereka kelembaga rehabilitasi kaum muda bila mereka tumbuh dewasa kelak.
Paman korban, Raya Matthews usai mendengarkan keputusan hakim langsung berteriak : "Bagaimana sekarang rasanya, hei..kamu bajingan cilik ?" Dua bocah itu tampak terdiam, duduk tak bergeming mendengarkan putusan hakim. Mereka menangis tetapi tangisnya tak digubris pengunjung. Para pekerja social perawatan anak-anak segera mengawal keduanya dengan cepat keluar dari ruang sidang, menuruni tangga gedung pengadilan dan dimasukkan ke dalam mobil tahanan yang dikerumuni banyak orang. Keduanya langsung dilarikan ke penjara di mana selama ini mereka mendekam sejak peristiwa pembunuhan bulan Februari lalu.
Drama kejahatan yang terjadi di kota Preston di Inggris bagian utara itu, telah menimbulkan kesedihan mendalam pada keluarga-keluarga Korban dan menimbulkan keprihatinan pada keluarga pelakunya. Namun berita itu muncul sebagai berit utama di berbagai surat kabar di seluruh dunia.
> Hakim Morland, yang menyatakan "eksploitasi kekerasan dalam film video boleh jadi menjadi bagian dari ulah kedua bocah itu," menghukum Keduanya atas titah Ratu Inggris. Dan hukuman seumur hidup terhadap pelaku kejahatan termuda itu baru pertama kalinya dikeluarkan dalam sejarah Inggris.
> Ibu James, Denise Bulger, saking sedih dan marahnya atas kelakuan dua bocah itu, mengharap mereka dimasukkan saja ke balik teralis besi > Campur bersama narapidana dewasa. "Saya anggap, kini mereka telah mulai masuk pada bagian terberat dalam hidup ini, yakni dijebloskan dan terkunci di balik sel. Untuk apa yang telah mereka lakukan, mereka mesti dijebloskan di dalam sebuah sel bersama semua penjahat lain - saya tak urusan berapa usia mereka".
> Ibu Thompson, salah satu pelaku, masih tampak sulit menerima kenyataan bahwa anaknya yang tampaknya montok dan berbola mata gelap itu, yang wajahnya dipajang di halaman depan berbagai Koran edisi Kamis kemarin, ternyata seorang pembunuh kejam. "Dia (Thompson) memang telah menceritakan kebohongan-kebohongan, namun dia juga mengungkapkan kebenaran tentang suatu hal sejak awal hingga akhir - dia tak membunuh bayi itu," kata Anne Thompson kepada para wartawan setelah usainya persidangan yang memakan waktu 17 hari itu.
> Selama masa persidangan itu, para pengunjung pengadilan dibuat merinding bulu kuduknya saat mendengarkan runtutan tragedy itu. James Bulger diajak pergi pergi meninggalkan ibunya yang lagi belanja di sebuah supermarket pinggiran kota Liverpool oleh Thompson dan Venables (waktu itu usianya baru 10 tahun). Waktu itu ibunya tengah memilah-milah daging yang mau dibelinya. Mereka menyeret dan mendorong bocah yang lagi belajar berjalan itu. Sejak keluar dari supermarket, James Bulger meraung-raung mencari ibunya. Namun di sepanjang jalur rel kereta api sejauh empat kilometer yang sepi, James diseret dan ditendangi tanpa belas kasihan.
> Di sana, menurut kesaksian dalam masa persidangan selama 17 hari itu, Thompson maupun Venables menghantamkan batu bata, batu,kayu dan potongan besi ke arah kepala James. James yang belum tahu apa-apa itu masih terus ditendangi sekalipun telah mandi darah. Mata bocah balita itu pun disiram cat dan ketika akhirnya terbunuh, kedua bocah itu meletakkan mayat James di atas rel kereta api yang mengakibatkan mayat itu terbelah dua bagian akibat terlindas kereta api barang. Mayatnya ditemukan dua hari kemudian, dan kedua pelaku pembunuhan itu ditangkap di rumahnya seminggu setelah kejadian. Keduanya berhasil dilacak melalui rekaman video pemantau keamanan supermarket.
> Pengacara Dominic Lloyd yang mewakili Thompson, menyatakan bocah itu sekarang "mulai menjalani hidup baru di dalam kegelapan yang ia Ciptakan sendiri setelah pembunuhan itu". "Dia memiliki kisah abadi, ketika keduanya diangkut di dalam mobil tahanan dan dilempari batu oleh massa ketika hadir di pengadilan untuk sidang. Ia juga tak akan pernah lupa akan teriakan cemoohan yang dilontarkan sesama bocah. Dia harus berbahagia tinggal di mana dia sekarang berada,karena tak langsung dihukum mati".
Para detektif yang menginterogasi kedua bocah itu sebelum proses pengadilan, menggambarkan mereka layaknya setan yang berulah dengan membunuh orang hanya demi kesenangan semata. Motif dan brutalitas pembunuhan tersebut telah mengundang reaksi massa di Inggris dan di luarga negeri, di mana gambar-gambar rekaman kamera pemantau keamanan yang menunjukkan James tengah digelandang dua bocah itu menuju kematiannya, disiarkan di jaringan televisi multi internasional. Serangan atas bocah itu yang tak jelas tujuannya tersebut telah membangkitkan pertanyaan yang tak terjawab tentang kenakalan remaja dan mengapa kejahatan semacam itu bisa terjadi. Baik Robert Thompson maupun Jon Venables ternyata berasal dari dua keluarga yang broken home. Dan memang sering melakukan tindak kriminal,suka mengutil, suka berlagak jagoan, serta senang membolos sekolah.
> Lingkungan tempat permainan keduanya memang buruk. Setelah ayah Thompson meninggalkan ibunya dan enam saudaranya yang lain dan setelah rumahnya terbakar habis, mereka pindah kerumah penampungan, di mana Robert Thompson kian jahat perangainya. Dia mempecundangi adiknya sendiri, membangun reputasi sebagai pelajar yang malas, suka memanipulasi dan secara alamiah liar. Para tetangganya mengatakan Thompson suka menjerat burung-burung dan memenggal kepala unggas tangkapannya itu. Ibunya kehilangan kendali dan akhirnya semua anaknya terjerumus ke jurang kegelapan. Jon Venables dikenal di sekolah sebagai bocah yang suka mengganggu dan mengacau. Dia suka memukul dari belakang, menggoyang kursi pelajar lain, membuat suara gaduh.Suka melukai diri sendiri dengan gunting,melukaiteman-temannya dan gurunya dipecundangi Orang tuanya pun pasrah.
> Thompson dan Venables memang rekan sekelas yang sehobi. Hari-hari ini pun, rakyat Inggris dihadapkan pada arus kemungkinan munculnya kejahatan anak-anak lainnya, yang muncul dari keluarga yang retak dan cerai. Juga kekerasan yang banyak tersaji dalam permainan video atau film video yang disebutkan hakim sebagai salah satu factor penyebabnya,mulai banyak disorot publik.

 Ray Abduh, Si Pendiam Penemu Celah KlikBCA Wicaksono Hidayat - detikInet Ray Abduh (wsh/inet) Jakarta, Pekan lalu, Rabu (19/04/2006), sosok bernama Ray Abduh menemukan adanya celah di situs KlikBCA.com. Celah itu memungkinkan orang lain mengakses data transaksi rekening yang bukan miliknya. Pada hari yang sama, celah tersebut segera ditutup oleh pihak BCA.
Akhir pekan lalu, detikINET bersama pihak BCA pun bertemu dengan Ray Abduh. Seperti apa sosok Abduh sebenarnya? Siapa nama aslinya?
Pendiam
Abduh ternyata adalah seorang pria bertubuh langsing dengan tampilan konservatif. Saat ditemui ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru, celana kain, dan sepatu pantofel hitam. Tampilannya sama sekali jauh dari sosok nyentrik 'pembobol situs' dalam film-film Hollywood seperti 'Hacker', 'Fled', atau 'Swordfish'.
Nama asli Abduh adalah Rofendi, seorang pekerja teknologi informasi di sebuah kantor swasta. Saat berjabat tangan dengan detikINET tangan Rosfendi terasa sangat dingin. Bisa diduga ia bekerja di ruangan yang mengutamakan 'kesehatan komputer' daripada manusia. Seperti umum diketahui, komputer akan lebih awet pada ruangan bertemperatur rendah. "Tempat saya kerja memang dingin sekali Mas. Di dalam harus pakai jaket," ujarnya.
Pertemuan antara detikINET, Abduh, dan BCA dilakukan di sebuah rumah makan. Dari pihak BCA hadir Manager Electronic Banking Development Setyo Harsoyo, Assistant Manager Iwan Isdarmawan, Yoyok seorang manajer dari divisi Teknologi Informasi, serta seorang staff TI.
Pertemuan berlangsung ringan dan ramah. Abduh cenderung lebih banyak diam, namun saat berbicara ia mampu menarik perhatian. Di sisi lain, pihak BCA nampak ingin tahu dan kerap mengajukan pertanyaan kepada Abduh.
Rendah Hati
Dengan rendah hati Abduh meminta maaf kalau apa yang diungkapnya sempat membuat repot pihak BCA. Namun pihak BCA menampik hal itu dan justru balik berterimakasih pada Abduh yang turut membantu BCA menghadirkan layanan internet banking yang aman dan bisa diandalkan.
"Justru kami yang berterimakasih Mas. Bertemu dengan teman-teman dari kalangan ini (penggiat dunia maya-red) memberi banyak wawasan baru pada kami," ujar Yoyok. Pihak BCA berharap Abduh bisa terus memberitahukan jika di kemudian hari ada hal-hal terkait keamanan yang perlu dicermati.
Apa yang dilakukan Abduh saat menemukan celah di KlikBCA tersebut patut dipuji (bahkan ditiru). Alih-alih menyebarluaskannya, Abduh justru menghubungi detikINET dengan niat mencapai pihak BCA. "Saya belum mengkonfirmasikan masalah ini ke pihak yang buat aplikasi, saya tidak tahu mesti ke mana," ujar Abduh ketika itu.
Dalam pertemuan itu, Abduh pun mengaku tak ingin melakukan sesuatu yang sifatnya merusak. "Saya sebagai nasabah juga kan prihatin," ujarnya.
Di akhir pertemuan Abduh alias Rosfendi dengan pihak BCA bersalam-salaman. Nampaknya, tumbuh benih-benih persahabatan di sana. (wsh)

 Kenapa merokok itu nikmat? Karena mengandung manfaat .... ;)
Ini manfaatnya : - bahan bakar roket --> jadi tambah kenceng kalo lari - kapur barus --> kalo tidur ga dirubung rayap+kecoa - cadnium --> "stroom" - PVC --> biar tahan air dong.. (kan biasa buat pipa air....) - gas knalpot --> sama aja kan sama orang yg ga ngerokok tapi gelantungan naik metromini? - penghapus cat --> kalo misalnya ketelen cat kan langsung bablas & tidak meracuni tubuh? - racun untuk hukuman mati --> semua orang ntar juga mati?? - pembersih lantai --> kalo lagi kehabisan karbol, tinggal ngludah aja....trus tambah air deh....
Hehehehe .... buat yang merokok jangan tersinggung ya ... cheers ... 
 What is it about Winter Sonata that touches so many women of all ages throughout Asia?
Upon a closer scrutiny, this Korean TV drama series offers more than a complex love story, intriguing plot twists, good acting, memorable scenes and lines, not to mention, breathtaking winter scenery backed up by melancholic music tunes. Under the crafty direction of Yun Seok Ho, the series presented a mastery of cinematic techniques tugging at one's heartstrings, like the sound and visual effects of a big screen effectively capturing one's imagination. Moreover, it addressed the perennial theme of love in all its complexity in our ever-changing society.
Unlike most tragedies with a sad ending, Winter Sonata reached a bittersweet conclusion even though everyone who had intimate connection with the two main characters paid the heavy price of emotional and mental agony. The story opened with Joon Sang portrayed by Bae Yong Jun in his finest performance and Yu Jin, played by the talented Choi Ji Woo, as two high school students who fell in love for the first time. Unfortunately, their ill-fated love suffered a cruel blow as our hero soon died in a car accident, leaving our heroine heart-broken and dispirited. Ten years later, Yu Jin found herself working on a ski resort project with Min Yeong who looked exactly like Joon Sang. Oddly enough, he was courting Yu Jin's high school rival, Chae Lin, deftly played by Park Sol Mi. Consequently, Yu Jin's uncontrollable attraction to Min Yeong jeopardized her engagement to her childhood admirer, Sang Hyuk, played by Park Yong Ha, who in conspiracy with Chae Lin, tried everything to separate the two destined lovers. When the truth came out that Min Yeong and Joon Sang were the same person and worse still, the suspicion that Joon Sang and Yu Jin were half-brother and sister, everyone involved was thrown into utter confusion, resulting in grief and detrimental pain.
Following the success of directing the TV drama series, Autumn Tales, Yun Seok Ho demonstrated his supremacy in making melodramas using symbolism, parallelism, repetition, and timing, as provocative ways to stir emotions and draw tears from the audience. The main symbols in Winter Sonata -- the star Polaris (representing Joon Sang), the missing puzzle piece (representing Yu Jin in Joon Sang's life), and the first snowfall of winter (representing the meeting of the two lovers) -- appeared repetitively throughout the melodrama to hammer the point of their significance they contributed to the story. Furthermore, the excellent use of parallelism and repetition compounded the dramatic effects in scenes -- whenever Yu Jin and Sang Hyuk were fighting, Min Yeong and Chae Lin were also arguing; when Yu Jin and Min Yeong strolled through their high school, each taking a different path, unaware of one another's presence; and when Yu Jin tried to tail whom she thought was Joon Sang in the crowd and later Sang Hyuk attempted to follow whom he thought was Yu Jin in the streets.
Although the drama is basically a love story, it tackled many contemporary themes: 1) character duality -- Joon Sang personified the dark side and Ming Yeong, the bright side; 2) identity problems -- Joon Sang searched for the identity of his father and later Min Yeong questioned his own identity; 3) different reactions to the loss of love -- Yu Jin's sad disposition, Joon Sang's escapes to America, San Hyuk's suicide attempt, and Chae Lin's drinking binge; 4) incestuous love remained a taboo in modern age; and 5) fate prevailed no matter what others did to prevent the destined lovers from getting together.
The main reason for Winter Sonata's popularity could be attributed to its bold exposition of the various aspects of love: 1) puppy love; 2) first love; 3) possessive love; 4) lost love; 5) parental love; and 6) true love. Everyone in the audience has experienced at least one or more of these different shades of love, where he or she could empathize with any of the characters at one time or another in this melodrama.
In high school, Choi Ji Woo and Bae Yong Jun in their roles convincingly demonstrated the beauty of innocence and sweetness of puppy love as they helped and defended each other. Then the puppy love blossomed into first love when their most impressionable memories consisted of things they did together for the first time. It was through this love that the gloom and anger in Joon Sang faded away when he was in the presence of Yu Jin.
The series also showed the negative impact of possessive love -- Sang Hyuk for Yu Jin and Chae Lin for Min Yeong -- in which Sang Hyuk and Chae Lin would do anything to keep their loved ones to themselves, including lying, scheming, and hurting others. When they finally lost their beloveds to the destined pair, they marched down a familiar path of self-destruction -- Sang Hyuk tried to commit suicide and Chae Lin slumped into a drinking stupor. However, mature love requires making sacrifices -- putting the beloved's happiness above everything else -- as seen in Sang Hyuk's release of Yu Jin to the revived Joon Sang, in Chae Lin's suggestion to Joon Sang to elope with Yu Jin despite everyone's disapproval of their marriage, in Joon Sang's decisions to place Yu Jin's well-being above all his needs, and in Yu Jin's respect for Joon Sang's resolution to bid their last farewell.
Even in modern times, family plays a dominant role in Asian culture. At the beginning, Joon Sang desperately sought parental love from a father he never knew, and later he could forgive his mother for all the wrongs she had done him. Suppressing her feelings, Yu Jin chose Sang Hyuk over Min Yeong to abide the wishes of Sang Hyuk's family and her own mother. As the drama unfolded, the meddling of three families -- Sang Hyuk's parents, Joon Sang's mother and Yu Jin's mother -- caused more harm than good with endless sorrow and tragic consequences to their offsprings.
Like all great love stories, true love as written in the stars exists in the one and only couple made for one another. Obviously, Joon Sang and Yu Jin were destined to be together, for they both fell in love with each other, not once but twice and could love no one else.
In conclusion, Winter Sonata delivered a tearjerker with a moving tale and unforgettable characters. It brought a paragon mate for a modern woman to life, exemplified by Joon Sang -- handsome, sensitive, intelligent, and successful in life. More importantly, he was able to love a woman with complete gentleness and understanding, even at the risk of his own welfare and happiness. In addition, the drama series successfully revealed the manifestations of love in real life, to which everyone in the audience could relate. As Winter Sonata makes its appearance around Asia, its popularity will certainly grow, for it possesses all the elements of a classic drama.
By Diana Lee (http://www.Uniorb.com). Her work has appeared in several magazines, ezines and anthologies. Interested in various forms of writing, she has written essays, poems, and short stories.

 Rabu, 21/12/2005 14:25 WIB
UU Gay Diberlakukan
Elton John Resmi Nikahi Pasangannya
Kontributor: Dian Lestariningsih
Jakarta, Setelah melakukan penantian yang cukup panjang, akhirnya hari ini, Rabu (21/12/2005) Sir Elton John, 58, meresmikan hubungannya dengan David Furnish seorang film maker, 43. Pernikahanmereka bertepatan dengan hari pertama dikeluarkannya keputusan pemerintah sipil Inggris yang melegalkan pernikahan kaum homo seksual; gay dan lesbian.
Mungkin ini adalah pernikahan spektakuler di penghujung tahun 2005 ini. Elton dan David memilih Windsor Guildhall, London Barat sebagai tempat pernikahan. Sebelumnya, tempat tersebut juga pernah menjadi saksi pernikahan Pangeran Charles dan Camilla Parker.
Upacara pernikahannya hanya dihadiri Ibu kandung Elthon dan ayah tirinya, orang tua Furnish juga keluarga dekat kedua mempelai.
Pesta pernikahan akan dilakukan malam harinya, di Mansion Elton John di Woodside dekat Windsor. Dikabarkan pesta yang menelan biaya lebih dari 1 juta pundsterling itu akan dihadiri 700 undangan.
Beberapa artis dan selebriti seperti Rod Steward dan istrinya, Lulu, Victoria Beckham, Donatella Versace, Liz Hurley dan Elizabeth Taylor sudah memastikan diri untuk hadir.
Senin malam sebelumnya diadakan Bachelor Nite atau "pesta bujang" di Too2Much Gay bar di Soho, London yang dihadiri pula oleh Bryan Adams dan Ozzy Osbourne yang datang bersama istrinya.
Usai upacara pernikahan, Furnish yang kelahiran Kanada memberikan pernyataan "Selama ini saya yakin Elton adalah orang yang tepat dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya".
Elthon dan Furnish telah menjadi pasangan selama lebih dari 12 tahun. Tidak heran bila hari ini menjadi hari yang sangat mereka nantikan. Belum ditentukan tempat dimana mereka akan berbulan madu, namun pasangan ini sudah sepakat segera melakukannya.(fta)

 Kadang kita suka tidak sadar ya kalau anak juga mempunyai hak untuk nyaman, terlindungi dari bahaya. Kadang hak itu dilanggar demi kenyamanan orang tua. Seenaknya saja kita memperlakukan mereka dengan membiarkan mereka terhimpit antara ayah ibunya, dibiarkan berpanas-panas ria sementara ayah ibunya berhelm ria, dibiarkan duduk didepan tanpa jaket, kacamata ataupun topi. Belum lagi yang harus bersempit-sempit ria karena harus mengangkut 5 orang sekaligus .... 
| |